Broke!

brokeLebih besar pasak dari pada tiang. Salah satu pepatah yang pernah kita dengar saat masih SD. Salah satu yang paling sering muncul saat ujian. Begitu tertanam dalam ingatan. Sehinga kita berpikir, alangkah bodoh dan malangnya orang seperti itu.

Malang, karena mungkin mereka adalah orang-orang tertimpa musibah. Usaha bangkrut, ada keluarga sakit, terkena bencana atau hal-hal semacamnya. Atau mungkin karena memang under earning, penghasilan mereka belum bisa memenuhi kebutuhan pokok mereka. Mereka orang-orang malang yang perlu dibantu.

Tapi mereka adalah orang bodoh jika sesunguhnya mereka adalah orang yang berkecukupan. Namun mereka tidak mampu mengekang keinginannya, tidak bisa mengalahkan gengsinya. Senang terlihat keren walau tersiksa saat membayar cicilan kartu kreditnya. Kelihatannya yang masuk golongan ini tidak banyak. Bernarkah?

Ternyata pendapat saya di atas salah. Dalam sebuah survey belum lama ini disebutkan bahwa ada sekitar 28% penduduk Indonesia yang "broke" atau bangkrut karena pengeluarannya lebih besar dari pendapatannya. Yang lebih parah defisitnya rata-rata mencapai 35% dari penghasilannya. Dan yang mencengangkan mereka bukanlah orang-orang yang miskin atau berpenghasilan rendah. Mereka orang-orang yang berpenghasilan di atas rata-rata, tapi mempunyai gaya hidup yang menuntut mereka mengeluarkan uang lebih banyak.

Kelompok "broke" ini menghabiskan uangnya lebih banyak dalam hal seperti liburan, arisan, perawatan rumah dan membayar cicilan hutang. Sebagai gambaran dalam survey itu disebutkan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk Indonesia: 24% untuk makan dan minum;19% untuk sewa rumah, listrik dan air; 17% untuk pakaian dan liburan; 8% peralatan rumah tangga; 7% obat-obatan dan perawatan tubuh; 6% bayar cicilan dan asuransi; 5% tunjangan buat orang tua; 5% untuk perawatan rumah dan kendaraan dan 3% untuk amal dan sedekah.

Jika jumlah kelompok “broke” ini semakin banyak, maka sebagai bangsa kitapun akan merasakan dampaknya. Kita bukan lagi negara yang produktif, tapi menjadi negara yang konsumtif. Yang tidak bisa bersaing dengan negara-negara tetangga sendiri. Serbuan barang asing semakin gencar dan melenakan kita. Sehingga kita lupa dengan jati diri bangsa kita.  

Memang angka survey masih bisa diperdebatkan, namun paling tidak bisa menjadi indikator untuk mengevaluasi diri. Sudah benarkah kita mengelola keuangan pribadi kita? Apakah pengeluaran yang kita keluarkan lebih banyak untuk keinginan atau untuk kebutuhan? Pertanyaan-pertanyaan itu perlu kita ajukan pada diri kita.

Dan jika sedekah yang kita keluarkan di jalan Allah “hanya” 1/6 dari harga baju yang kita beli, apakah kita tidak malu saat memohon dilimpahkan rejeki dari Allah? Jangan sampai kita masuk kelompok “broke”, bangkrut dunia dan akhirat. Naudzubullahi min dzalik!

Posted by at 13 December 2013
Filed in category: Motivasi,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *