Cita-cita Anak

Cita-cita“Nanti kalau sudah besar adik mau jadi apa?” tanya saya kepada anak saya yang baru kelas 2 SD. Seperti kebanyakan anak-anak, cita-cita dia banyak sekali. “Aku mau jadi pemain bola, polisi, jadi pak ustadz, jadi pengusaha sukses…”.

Apa yang dia ucapkan sebagian besar pernah juga saya impikan saat kecil, tapi jadi pengusaha sukses kayaknyadulu sama sekali tidak pernah saya pikirkan. Mungkin karena ayah saya PNS, jadi saat itu saya tidak tahu apa itu “pengusaha”. Yang saya tahu cuma “tukang jualan”, jualan sayur, jualan baju, jualan mobil, jualan rumah dll. Kayaknya gak keren deh kalo jadi “tukang jualan”… J  

Lingkungan benar-benar mempunyai pengaruh yang besar kepada pribadi anak. Mereka belajar dari apa yang mereka lihat, dengar dan rasakan setiap hari. Merekapun mempersepsikan sesuatu negatif atau positif juga dari lingkungan. Maka perlu berhati-hati saat bicara dengan anak atau bicara dengan orang lain di depan anak.

Ingat beberapa tahun yang lalu, saat masih tinggal di Surabaya. Gaji dari sebuah BUMN strategis saat itu tidak mampu memenuhi kebutuhan kami sekeluarga sehari-hari. Saya dan istri akhirnya berusaha mencari tambahan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Jadi “tukang jualan” akhirnya menjadi pilhan yang rasional. Beberapa produk pernah kami coba mulai baju batik, tahu hingga yang terakhir frozen food seperti nugget, kentang, siomay dll.

Ternyata kesibukan istri ini, karena saya masih tetap sebagai karyawan, diamati oleh anak kami yang kedua. Dia masih 3-4 tahun saat itu, jadi belum sekolah. Dia melihat kegiatan istri setiap hari melayani konsumen dan juga para pedagang keliling yang meminjam produk-produk kami. Dia juga melihat bagaimana setiap hari istri menerima uang dari konsumen dan uang setoran dari para pengecer. Itu semua masuk ke dalam alam bawah sadarnya.

Saat itu kami tidak menyadari, sampai suatu ketika saya bertanya “Nanti adik kalo besar mau jadi apa?”. Dengan mantap dia menjawab “Mau seperti mama!”. Kaget juga kami saat itu mendengar jawabannya. “Memang kenapa adik mau seperti mama?” tanya saya penasaran. “Habis… mama kan banyak duitnya..”. Ha.. akhirnya saya hanya bisa tersenyum kecut saat itu. Anak saya tahu bapaknya gak punya duit he3x….

Itulah anak, dia belajar sendiri dari lingkungan dengan menggunakan semua indra yang mereka miliki. Maka tidak heran kalau sekarang, anak-anak saya yang kecilpun saat ditanya mau jadi apa, diantara sekian banyak keinginannya pasti tidak lupa menjawab mau jadi pengusaha. Mereka tahu bapaknya sering kumpul di TDA, bergaul dengan para pengusaha yang smangat berbaginya tinggi. Apalagi mereka juga sering kami libatkan dengan kegiatan usaha seperti saat menghitung uang hasil penjualan, ikut kanvasing, berbagi dengan sesama dll. Sehingga mereka tahu kalau pengusaha itu cita-cita yang mulia dan bisa memberi manfaat kepada banyak orang.

Anak itu terlahir dalam keadaan fitrah, putih seperti kertas. Orang tua dan lingkunag sekitarlah yang mewarnai dengan guratan-guratan di atasnya. Semoga kita bisa memberikan guratan-guratan indah dan baik pada anak kita. Sehingga mereka bisa mempunyai cita-cita yang baik dan mulia.

Posted by at 12 January 2014
Filed in category: Motivasi,

3 Responses to Cita-cita Anak

  1. Eti Romlah says:

    Betul banget Pak.  Mirip dengan pengalaman pribadi. He..he..he.

  2. kang haris says:

    sebagai tukang mie saya bersukur punya guru yang sukses jualan baju dll :)

  3. Rahmaya says:

    tugas orang tua untuk membantu anak mendapatkan cita-citanya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *