Doa Yang Buruk

DoaKita semua ingin hidup ini menjadi semakin lebih baik. Hari ini lebih baik dari kemarin dan besok lebih baik dari hari ini. Karena kita semua ingin menjadi orang yang beruntung.

Namun pagi itu kami sempat dikejutkan dengan pernyataan dan pertanyaan dari ustadz Rofi. “Janganlah kita mendoakan yang buruk untuk diri kita! Pernahkah kita mendoakan yang buruk untuk diri sendiri?”. Pertanyaan yang retorika, tapi bingung menjawabnya. Harusnya jawabannya ‘tidak’ tapi kenapa ditanyakan ya… Apakah jawabannya ‘iya’? Kalau benar masak sih… berdoa yang buruk buat diri sendiri.

Akhirnya ustadz Rofi meneruskan “Pernahkah kita berkata ‘Aduh sakitku ini kayaknya gak sembuh-sembuh deh…’ atau ‘Saya kayaknya sial terus ya…’. Pernahkah kita mengatakan hal-hal seperti itu? Kalo pernah maka itulah yang dinamakan mendoakan yang buruk untuk diri sendiri!”

Ternyata jika kita mengeluh atas kondisi yang kita hadapi dan berpikir negative, sama saja dengan mendoakan yang buruk diri kita sendiri. “Aku seperti prasangka hambaku” kata Allah. Jadi prasangka yang kita buat untuk diri kita, itulah yang akan Allah berikan kepada kita. Saat kita mengeluh kita membayangkan keluhan kita tersebut yang kemudian memberikan energy negative kepada semua sel-sel dalam tubuh kita.

Dalam al Qur’an diceritakan bagaimana Fir’aun sangat ketakutan dengan mimpinya. Dia bermimpi kerajaannya dihancurkan oleh seorang dari keturunan bani Israil. Dia sangat mengkhawatirkan mimpinya itu, takut dengan prasangkanya sendiri. Bahkan dia sampai memerintahkan untuk membunuh semua anak laki-laki bani Israil. Akhirnya ketakutannya itu menjadi kenyataan.

Ucapan kita kepada oang lain terutama kepada anak kita bisa juga menjadi doa yang buruk. Maka janganlah suka memarahi anak dengan ucapan buruk seperti “Dasar anak nakal kamu ya…!” atau “Kamu memang malas!”. Karena itu bisa menjadi doa buruk buat anak kita.

Teringat kisah seorang ibu yang saat marah kepada anaknya selalu keluar ucapan yang positive. “Sudahlah kamu belajar ke masjid saja, semoga kamu jadi imam masjidil haram!” Dan ucapannya menjadi doa yang dikabulkan karena beerapa puluh tahun kemudian sang anak menjadi imam di Masjid Al Haram, Mekkah. Dialah imam Sudais.

Itu juga yang terjadi dalam cerita hikayat Malingkundang. Si ibu marah dan menyumpahi anaknya menjadi batu. Dan benar dalam seketika anaknya menjadi batu yang tidak berguna. Coba seandainya anaknya disumpahi menjadi mesin cuci, mungkin bisa lebih berguna untuk membantu mencuci pakaian he3x…

Jadi marilah kita selalu berprasangka baik dan berpikir positif terhadap diri kita sendiri. Dan jagalah kata-kata yang keluar dari mulut kita selalu yang baik. Karena itu semua doa buat diri kita.

Posted by at 12 January 2014
Filed in category: Religi,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *