Juragan Daging Sapi

sapiMinggu pagi itu, saya meluncur ke tempat cuci mobil. Karena tempat cuci langganan penuh, maka saya berputar halauan menuju tempat cuci mobil lain. Tempat cuci ini belum lama buka, kira-kira baru sekitar 3 bulan. Tidak terlalu ramai, mungkin tempatnya yang tidak terlalu strategis. Jasa cuci mobil sekarang memang mulai banyak bermunculan.

Di ruang tunggu saya hanya berdua dengan seorang pemilik mobil yang mobilnya sedang dicuci juga. Ngobrol basa-basi tentang kondisi Bogor yang semakin macet. Transportasi ke Jakarta yang semakin padat, baik jalan raya maupun komuter line. Tak lama kemudian masuk dua mobil lain, satu Toyota Rush dan yang satu Mitsubishi Outlander warna merah menyala.

Dari mobil terakhir muncul sosok tengah baya yang berpakaian casual, nyentrik dan bergaya. Berkaca mata hitam ray-ban, sepatu model boot dan kumis tebal menghiasi wajahnya. Tak lupa tas selempang kecil dari merk terkenal menggantung di pundaknya. Cukup nyentrik bapak ini. Namun karena masih asyik berbicara kedatangannya tidak terlalu saya gubris.

Tak lama kemudian teman bicara saya mobilnya sudah selesai dicuci dan pamit pulang. Bapak yang nyentrik tadi kemudian masuk ke ruang tunggu dan duduk di dekat saya. Dari pada bengong, saya sapa bapak itu. Lalu cerita ngalor ngidul tentang berbagai macam seluk beluk mobil termasuk mobilnya yang boros. Akhirnya terkuak sedikit latar belakang bapak ini yang luar biasa.

Ternyata dia adalah seorang yang berlatar belakang pesantren. Lalu kerja di sebuah pabrik gula di Krian, dekat Mojokerto Jawa Timur. Setelah sekian lama bekerja dia berpikir. “Kalau saya tetap kerja di sini, nanti kalau menikah dan punya anak, mau di sekolahkan dimana anak saya?” katanya dalam hati. Ya.. saat itu gajinya sebagai karyawan pas-pasan untuk kebutuhan pribadinya.

Akhirnya tahun 2000 dia memutuskan untuk merantau ke Jakarta. Sempat terlunta-lunta menjadi buruh di Jakarta. Akhirnya dia memutuskan untuk berdagang ayam di Bogor. Awalnya berjualan sendiri akhirnya dia menjadi pemasok. Namun kemudian dia beralih menjadi pemasok daging sapi untuk sebuah pasar terbesar di Bogor.

Dengan latar belakang pesantren, dia tetap mejaga akhlaq berdagang. Walaupun banyak yang menjual sapi glonggongan, dia tetap memegang teguh kejujuran. Sedikit tips memilih ayam dan daging yang baik sempat dia berikan ke saya, termasuk trik curang para penjual daging dan ayam.

Melihat penampilannya sekarang, saya yakin 20 tahun yang lalu tidak banyak yang mengira dia bisa sukses seprti ini. Seorang yang buruh pabrik gula sudah menjadi seorang pengusaha yang cukup berhasil. Juragan daging sapi yang sukses.

Walau agak kesal menunggu cuci mobil yang lama, namun cerita bapak nyentrik ini cukup untuk menghibur dan menarik pelajaran yang berharga. Saat ada kemauan maka kita bisa mengubah hidup kita.

Posted by at 12 March 2014
Filed in category: Motivasi,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *