Menghadapi Musibah

banjir2Musibah datang sebagai cobaan dan peringatan dari Allah. Reaksi kita terhadap musibah menunjukkan karakter kita sesungguhnya. Sudah benarkah kita bersikap?

Bencana banjir melanda beberapa daerah di Indonesia. Gunung Sinabung di Sumatra Barat juga sudah terbatuk-batuk selama beberapa minggu ini. Musibah adalah cobaan dan peringatan Allah yang harus kita ambil pelajaran darinya. Untuk bisa mengambil pelajaran maka kita juga harus bijak menyikapinya. Dan senjata utama orang muslim dalam menghadapi musibah adalah sholat dan sabar.

Di media massa banyak berita musibah yang melanda negeri kita tercinta ini menghiasi halaman utama. Berbagai macam reaksi orang menyikapi musibah ini, baik yang terkena langsung atau tidak terkena langsung dampaknya. Komentarpun beragam, mulai dari yang sedih, prihatin, kesal, marah, mengkritik pejabat atau marah kepada keadaan/takdir dll. Yang hebatnya lagi komentarpun dikomentari lagi sehingga menjadi debat yang tak berujung.

Alhamdulillah, di luar mereka yang saling berkomentar masih banyak orang yang lebih suka melakukan aksi positif tanpa menunggu instruksi. Ada yang langsung terjun ke tempat bencana membantu korban, melakukan evakuasi, meyelamatkan anak-anak, memberi bantuan medis, memberi bantuan pangan dan air minum bersih. Sebagian lagi ada yang menggalang dana di kantor, komunitas, lingkungan rumah dll.

Salut sekali dengan kelompok kedua ini. Bahkan ada dari mereka yang tidak pulang ke rumah beberapa hari. Bukan karena rumahnya kebanjiran, karena rumahnya tidak di tempat bencana. Namun mereka meninggalkan keluarga demi membantu yang terkena bencana. Semoga mereka itu termasuk orang-orang sabar. Sabar saat menghadapi musibah, sabar dalam membantu korban musibah dan sabar mencari solusi terbaik keluar dari musibah.

Mungkin tidak semua orang bisa seperti mereka, terjun langsung ke daerah bencana. Karena mungkin tidak punya skill yang diperlukan atau tidak ada waktu karena ada kewajiban yang lain. Namun bantuan dalam bentuk lain seperti dana, pangan, baju dll masih bisa kita berikan. Kalaupun tidak ada, pasti kita masih bisa memanjatkan doa di tengah malam untuk mendoakan mereka yang terkena bencana.

Buat kita yang tidak terkena langsung bencana, kejadian yang menimpa negeri kita ini juga sebuah cobaan. Cobaan, apakah kita bisa memberikan apa yang kita miliki untuk membantu mereka, para korban bencana. Kelihatannya sepele tapi tidak banyak yang bisa melakukannya. Bukan besarnya uang yang jadi penilaian atau berapa banyak media yang meliput. Tapi seberapa besar keikhlasan kita dalam membantu. Di mata Allah bantuan yang banyak dan ikhlas itu lebih baik dari pada sedikit tapi tidak ikhlas. J

Posted by at 24 January 2014
Filed in category: Motivasi,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *