Mutiara-mutiara (2)

mutiara1Saat kita berusaha mendapatkan kesuksesan sesuai dengan cara kita, yang kita harapkan tentu dukungan dari orang-orang di sekitar kita seperti: orang tua, saudara sahabat kita. Namun bagaimana jika tidak semua menghargai atau menyetujui cara kita? Bagaimana jika orang tua tidak menyetujui pilihan kita untuk berwirausaha?

Itulah yang dihadapi oleh seorang anak muda dari sebuah kota kecil di selatan Jawa Barat. Jiwa wirausahanya sudah ada saat dia masih mahasiswa. Kegiatan “ngelapak”-nya sempat menjadi cibiran beberapa kawannya. Tentu saja… dengan prestasi akademik yang dia miliki, dia dianggap bisa menjadi dosen di almamaternya nantinya . Namun kegiatan ngelapaknya dianggap telah menurunkan ‘derajat” intelektualnya.

Orang tuanyapun tidak menyetujui kegiatannya itu. Mereka ingin melihat anaknya sukses dengan cara yang “normal”, menjadi dosen atau karyawan di perusahaan bonafid. Akhirnya anak muda itu memutuskan merantau jauh. Dengan alasan ingin bekerja di sebuah perusahaan di daerah Cikarang, dia meninggalkan kota kelahirannya. Kegiatan sebagai karyawanpun dia lakoni. Tapi jiwa wirausahanya tak pernah padam. Beberapa usaha dijalankan namun belum seperti yang diharapkan.

Hingga suatu ketika, dia bersama 2 rekannya berencana membuat usaha mie ayam. Awalnya mereka membuat kedai di bawah tenda di depan sebuah ruko di daerah Cibinong. Sempat terjadi kendala di hari pertama saat kedai dibuka. Anak pemilik ruko ternyata tidak setuju dan meminta mereka pindah. Setelah negosiasi akhirnya mereka bisa berjualan sementara di sana.

Namun kendala-kendala yang dihadapi tidak membuatnya patah arang. Bahkan itu menjadi pemicu anak muda itu untuk mencari tempat yang lebih baik. Dalam kondisi masih sebagai karyawan dan mempunyai bisnis baru, tentu perlu pengorbanan dan perjuangan hyang tidak sedikit. Namun harapannya tak pernah pupus dan doapun tak pernah putus ia panjatkan.

Alhamdulillah, setelah itu mereka mendapat tempat yang lebih baik, garasi sebuah rumah. Usahanya mendapat kemajuan yang pesat. Setelah setahun ternyata pemilik garasi menaikan harga sewanya cukup tinggi. Setelah sempat kesulitan akhirnya mereka mendapat tempat yang lebih baik dan lebih murah harga sewanya.

Di tempat baru itulah, usaha si anak muda ini semakin besar. Hampir semua stasiun televisi pernah meliput kedai mie ayamnya. Omsetnya menanjak hingga ratusan juta per-bulannya. Ketrampilannya sebagai penulis dan blogger juga telah membantu melejitkan usahanya ini. Orang tua yang dulu kurang setuju dengan kegiatan anaknya ini, sekarang mereka bangga dengan apa yang telah di raih anaknya.

Kesuksesannya tidak membuatnya lupa diri. Kegiatan sosial, berbagi dan keagamaan telah menjadi bagian dari aktivitas usahanya. Selain itu pengalaman dan ilmunya selalu disebarkan dengan menjadi pembicara di sekolah-sekolah dan juga beberapa instansi pemerintah.

Saya berkenalan dengan sosok istimewa ini saat kegiatan KMIB, kelompok Mentoring Inspirasi Bisnis, di TDA Bogor Raya. Gaya bicaranya yang supel dan penuh dengan canda membuat orang-orang di sekitarnya terhibur. Dialah Cucu Haris alias Kang Achoey alias Kang Haris pemilik kedai Mie Janda. Dengan nama produk dan pemiliknya yang unik serta rasa mie ayamnya yang enak walau dibuat tanpa MSG membuat banyak orang berkunjung ke kedai ini. Belum lama ini dia telah menambah 2 buah ouletnya, di daerah Sukahati dan Gunung Putri sehingga kini ada 4 outlet Mie Janda.

Semoga kesuksesan dan keberkahannya bertambah dan menjadi inspirasi kita semua. Amiin…

Posted by at 16 December 2013
Filed in category: Motivasi, TDA,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *