Percaya Kepada Allah

Trust in AllahSetiap kita yang beriman tentu jika ditanya “Apakah kamu percaya kepada Allah?”, tentu jawabannya “Ya!”. “Kalau kita sakit, percayakah kamu kalau yang memberikan kesembuhan adalah Allah”, jawabnya pasti “Ya!”. “Apakah kamu percaya segala sesuatu yang kita kerjakan tidak akan berhasil kecuali atas ijin Allah?”, jawabnya juga “Ya!”.

Pertanyaan tersebut selalu otomatis dijawab oleh bibir kita dengan “Ya!”, karena kita orang yang beriman, orang yang percaya kepada Allah. Namun benarkah jawaban kita tertanam dalam hati dan terbukti dalam keseharian kita, dalam semua tindakan kita? Pertanyaan itu terlontar dari seorang guru spiritual saya.

Lalu guru saya melanjutkan. Bagaimana jika kita menghadapi musibah, apa yang paling dominan ada dalam pikiran kita? Apakah kita berpikir sedang dalam kesulitan yang besar yang sulit diselesaikan atau kepercayaan dan keyakinan bahwa Allah Yang Maha Besar akan menolong kita?

Jika kita sakit, apa yang pertama kali kita lakukan? Sibuk mencari obat dan pengobatan dulu atau berdoa kepada Allah lebih dahulu karena Dia-lah yang sanggup menyembuhkan segala penyakit?

Jika kita ikut wawancara untuk sebuah pekerjaan. Siapa yang anda percayai akan memberi pekerjaan itu? Yang mewancarai kita atau Allah Yang Maha Besar? Kalau percaya kepada Allah, saat wawancara terdengar adzan, beranikah kita meminta waktu untuk sholat dulu atau meminta waktu sejenak untuk mendengarkan adzan?

Terus terang, pertanyaan-pertanyaan di atas bukanlah pertanyaan sulit seperti ujian nasional. Tapi entah mengapa lidah ini kelu saat ingin menjawab, walau menjawabnya hanya dalam hati.

Kebanyakan dari kita, kata guru saya, masih pada tingkat percaya di bibir saja. Sehingga pikiran-pikiran negative yang lebih mendominasi dalam pikiran. Coba saja tanyakan kepada orang yang belum punya rumah. “Wah, boro-boro saya punya rumah sendiri. Gaji buat makan saja gak cukup. Uang sekolah anak makin mahal. Kalo sakit juga sekarang biaya gak sedikit. ….”. Semua akan berlanjut dengan ungkapan negative dan pesimis.

Astaghfirullah……. Alhamdulillah……. Sebuah pelajaran berharga saya dapatkan hari ini. Ternyata kepercayaan saya kepada Allah masih jauh dari sempurna. Saya harus belajar lebih banyak lagi… belajar lebih percaya kepada Allah! Bukan percaya di bibir saja, tapi belajar bagaimana kepercayaan itu tertanam dalam hati dan dibuktikan dengan perbuatan. Kepercayaan yang tidak menafikan usaha, tapi justru menjadi dasar usaha-usaha kita.

Saat ada masalah bukan lagi bingung mencari solusi, setelah mentok baru ingat Allah, berdoa kepada Allah. Namun seharusnya jika datang masalah langsung ingat Allah, berdoa kepada Allah setelah itu berusaha mencari solusi sambil terus berdoa. Kalau semua sudah dilakukan barulah kita tawakal kepada Allah. Hasbunallah wa ni’mal wakiil.

Posted by at 7 March 2014
Filed in category: Religi,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *